Sekelompok orang tua di Redlands, California, mendesak Candy Olson untuk mengundurkan diri dari jabatannya di dewan sekolah akibat meme rasis dan antisemit yang ia "sukai" di Instagram. Olson mengatakan ia tidak pernah melihat gambar-gambar bermasalah tersebut.
Pertemuan Dewan Sekolah di Redlands, California, Memanas karena Aktivitas Media Sosial Anggota Dewan
Pertemuan dewan sekolah di Redlands, California, pekan ini berubah kacau dengan saling sindir dan tuduhan mirip Nazi. Pemicu utamanya adalah perdebatan soal aktivitas media sosial salah satu anggota dewan, Candy Olson.
Olson, yang merupakan bagian dari mayoritas konservatif di dewan tersebut, diketahui memberikan tanda suka (“like”) pada unggahan Instagram berisi gambar-gambar yang memuat meme rasis dan antisemit, berdasarkan tangkapan layar yang dikumpulkan sekelompok orang tua murid. Lebih dari 1.500 orang telah mengirimkan surat kepada dewan, bergabung dalam kampanye kelompok aktivis lokal Together for Redlands, yang mendesak Olson untuk mundur dari jabatannya.
“Kita punya banyak masalah serius di distrik ini, tapi dia malah membuang waktu dengan menyukai dan membagikan konten yang menurut saya paling mengerikan yang pernah saya lihat,” kata Samantha Trad, salah satu orang tua sekaligus pemimpin Together for Redlands. “Orang seperti itu tidak layak memimpin distrik sekolah.”
Olson menolak wawancara, namun mengklaim bahwa ia hanya berniat menyukai beberapa gambar yang tidak berbau politik, seperti meme ayam mengenakan sepatu hak tinggi. Ia mengaku sudah berhenti mengikuti akun tersebut karena tidak sepakat dengan konten provokatif yang mereka unggah.
Meski begitu, carousel Instagram yang ia sukai mencakup gambar Adolf Hitler dan Yesus yang tampak berdiskusi soal orang Yahudi, gambar tokoh The Simpsons Ned Flanders mengenakan seragam Nazi, dan meme yang seolah bercanda tentang menabrak parade kebanggaan LGBTQ dengan mobil.
“Kalau saya menyukai satu gambar dari 18 gambar dalam satu unggahan, bukan berarti saya menyukai semuanya,” ujar Olson dalam pertemuan dewan sekolah Selasa malam. Ia menambahkan, “Semua ini terjadi karena kaum progresif radikal di kota ini tidak setuju dengan kebijakan yang saya perjuangkan.”
Di California, banyak distrik dan pejabat negara dari Partai Demokrat cenderung mempertahankan kebijakan yang kerap diserang Donald Trump, termasuk dukungan terhadap siswa transgender. Namun, pandangan ini tidak berlaku merata. Beberapa daerah, termasuk Redlands, masih sering terlibat dalam “perang budaya” yang memanas di tingkat lokal.
Contohnya, ratusan orang memadati pertemuan dewan sekolah di Lucia Mar pada Mei lalu untuk memperdebatkan aturan terkait siswa transgender. Di Pajaro Valley, diskusi sengit muncul terkait kontrak pelatihan guru tentang “diskursus sipil” dan “ideologi rasial dalam sistem pendidikan AS”. Beberapa distrik bahkan menghadapi protes dan gugatan soal kewajiban pelajaran studi etnis untuk kelulusan.
Sejak awal tahun, pertemuan dewan menjadi semakin panas, sering berlangsung hingga larut malam. Pada April, setelah rapat maraton enam jam, dewan mengeluarkan resolusi menolak atlet transgender bertanding sesuai identitas gender mereka, meski tidak ada perubahan aturan resmi. Juli lalu, dewan melarang semua bendera di kelas kecuali bendera Amerika Serikat, California, dan militer — kebijakan yang dianggap sebagian orang sebagai serangan terhadap bendera kebanggaan LGBTQ.
Dewan konservatif Redlands didukung oleh organisasi sayap kanan lokal, termasuk Inland Empire Family PAC, yang pernah menggelar acara penggalangan dana dihadiri tokoh-tokoh seperti Eric Trump dan Alina Habba, pengacara pribadi Donald Trump yang kini menjabat Jaksa Amerika Serikat di New Jersey.
Juru bicara distrik menegaskan bahwa anggota dewan adalah pejabat terpilih, sehingga tidak tunduk pada aturan yang berlaku untuk pegawai distrik.
Namun, sejak Together for Redlands mempublikasikan tangkapan layar aktivitas media sosial Olson, suasana makin panas. Di media sosial seperti Reddit dan Instagram, Olson dituduh mendukung ujaran kebencian ala Nazi.
Sumber : BNC News
Tidak ada komentar:
Posting Komentar