Selasa, 05 Agustus 2025

🎯 Terluka, Terkucilkan, dan Terlupakan: Kisah Korban Bom Hiroshima Asal Korea

Terluka, Terkucilkan, dan Terlupakan: Kisah Korban Bom Hiroshima Asal Korea.

BBC mengunjungi para penyintas bom atom asal Korea yang hidup dalam bayang-bayang luka sejarah.

Pada pukul 08.15 pagi, 6 Agustus 1945, saat bom atom dijatuhkan di atas Hiroshima, Lee Jung-soon—yang kini berusia 88 tahun—sedang berjalan menuju sekolah dasar.

Ia melambaikan tangannya, seolah berusaha mengusir ingatan kelam itu.

“Ayah saya hendak berangkat kerja, tapi tiba-tiba ia berlari kembali dan menyuruh kami segera mengungsi,” kenangnya. “Kata orang-orang, jalanan dipenuhi mayat—tapi saya begitu syok, yang saya ingat hanya menangis dan menangis.”

Menurut Lee, tubuh para korban "meleleh, hingga yang tersisa hanya bola mata mereka", saat ledakan setara 15.000 ton TNT menghancurkan kota berpenduduk 420.000 jiwa itu. Tubuh-tubuh yang tersisa begitu rusak, hingga tak dapat dikenali.

“Bom atom... senjata yang sangat mengerikan.”

Sudah 80 tahun sejak bom atom pertama dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima. Sekitar 70.000 orang tewas seketika, sementara puluhan ribu lainnya meninggal dalam beberapa bulan berikutnya akibat radiasi, luka bakar, dan dehidrasi.

Namun, satu hal yang jarang diketahui dunia adalah bahwa sekitar 20% dari korban langsung bom itu adalah warga Korea.


Jejak Kolonialisme

Saat bom dijatuhkan, Korea telah dijajah Jepang selama 35 tahun. Sekitar 140.000 warga Korea tinggal di Hiroshima, sebagian besar karena dipaksa bekerja atau mencari penghidupan di bawah penindasan Jepang.

Para penyintas dan keturunan mereka masih hidup dalam bayang-bayang tragedi itu—menghadapi penyakit, cacat fisik, dan perjuangan panjang untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan yang belum kunjung datang.


"Tak Ada yang Bertanggung Jawab"

Shim Jin-tae, 83 tahun, salah satu penyintas, menyuarakan rasa frustrasinya:

“Tak ada yang bertanggung jawab. Negara yang menjatuhkan bom diam. Negara yang gagal melindungi kami juga diam. Amerika tak pernah meminta maaf. Jepang pura-pura tidak tahu. Korea? Tak lebih baik. Semua saling lempar tanggung jawab—dan kami dibiarkan sendirian.”

Shim tinggal di Hapcheon, Korea Selatan, sebuah daerah kecil yang menjadi tempat tinggal banyak korban bom atom asal Korea, hingga dijuluki “Hiroshima-nya Korea.”


Penderitaan yang Menurun

Lee Jung-soon kini hidup dengan kanker kulit, Parkinson, dan angina (penyakit jantung). Tapi luka yang lebih dalam adalah penderitaan anaknya, Ho-chang, yang mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah sambil menunggu donor ginjal.

“Saya yakin ini karena paparan radiasi, tapi siapa yang bisa membuktikannya?” ujar Ho-chang. “Butuh tes genetik yang mahal dan melelahkan.”

Kementerian Kesehatan Korea mengaku telah mengumpulkan data genetik sejak 2020 hingga 2024, dan akan melanjutkan penelitian hingga 2029. Namun, perlu bukti statistik yang kuat untuk mengakui korban generasi kedua dan ketiga secara resmi.


Korban dari Hapcheon

Banyak korban berasal dari Hapcheon, daerah pegunungan yang miskin. Saat masa penjajahan, panen rakyat disita, dan kemarau sering melanda. Ribuan warga pindah ke Jepang, sebagian dipaksa, sebagian lagi tergiur janji “bisa makan tiga kali sehari dan menyekolahkan anak.”

Namun di Jepang, warga Korea dianggap kelas dua—diberi pekerjaan berat, kotor, dan berbahaya. Ayah Shim dipaksa bekerja di pabrik senjata, sementara ibunya memaku peti amunisi.

Setelah bom meledak, para pekerja Korea dipaksa membersihkan puing dan mengumpulkan mayat—awalnya dengan tandu, kemudian dengan sekop. Banyak yang membakar mayat di halaman sekolah.

“Pekerjaan pasca-bom hampir semua dilakukan orang Korea,” ujar Shim, ketua Asosiasi Korban Bom Atom Korea cabang Hapcheon.


Didiskriminasi di Negeri Sendiri

Setelah Jepang menyerah dan Korea merdeka, sekitar 23.000 korban kembali ke tanah air—namun tidak disambut hangat. Banyak yang dianggap cacat, dikutuk, bahkan dijauhi.

“Di Hapcheon sudah ada tempat bagi penderita lepra. Jadi orang mengira para korban bom atom juga berpenyakit kulit,” kata Shim.

Lee membenarkan, ia menyaksikan sendiri orang-orang dengan luka bakar parah dijauhi, tidak diterima menikah, dan hidup dalam kemiskinan. Penyakit misterius mulai bermunculan: gangguan jantung, gagal ginjal, kanker—tanpa penjelasan medis yang pasti.


Generasi Kedua dan Ketiga: Luka yang Masih Terasa

Han Jeong-sun, korban generasi kedua, menderita kerusakan sendi pada pinggulnya. Ia tak bisa berjalan tanpa menyeret kakinya. Anak sulungnya lahir dengan cerebral palsy.

“Anak saya tak pernah bisa berjalan. Keluarga suami menyalahkan saya. Mereka bilang, ‘Kamu cacat, anakmu cacat, kamu akan menghancurkan keluarga ini.’ Rasanya seperti neraka.”

Pemerintah Korea sendiri baru merespons serius pada tahun 2019, dengan laporan awal yang hanya berdasarkan kuesioner. Sebelumnya, tidak ada payung hukum untuk menyelidiki atau membantu para korban.

Studi menunjukkan bahwa generasi kedua lebih rentan terhadap penyakit: depresi, penyakit jantung, anemia, bahkan tingkat disabilitas mereka dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Penyakit saya adalah buktinya. Cacat anak saya adalah buktinya. Tapi mereka tak mengakuinya,” kata Han. “Apa kami harus mati dulu baru dianggap sebagai korban?”


Perdamaian Tanpa Permintaan Maaf

Baru pada 12 Juli 2025, pejabat Hiroshima mengunjungi Hapcheon untuk pertama kalinya dan meletakkan bunga di tugu peringatan. Tapi tidak ada permintaan maaf resmi dari Jepang.

“Jepang bicara soal perdamaian. Tapi perdamaian tanpa permintaan maaf itu kosong,” kata Junko Ichiba, aktivis perdamaian asal Jepang.

Ia menyoroti bahwa buku pelajaran di Jepang masih menghapus sejarah kolonialisme dan korban bom atom asal Korea.


Agar Tak Terlupakan

Heo Jeong-gu dari Palang Merah Korea mengatakan bahwa waktu sangat terbatas:

“Kita harus mengumpulkan bukti dan kesaksian selagi para penyintas masih hidup. Untuk generasi berikutnya, kita harus bertindak sekarang.”

Shim menambahkan:

“Pengakuan lebih penting dari kompensasi. Tubuh kami mengingat apa yang kami alami. Kalau kita melupakan ini, semuanya bisa terulang. Dan suatu saat nanti, tak ada lagi yang tersisa untuk bercerita.”

 


Sumber : https://www.bbc.com/news/articles/cp8zlwd3e42o

Tidak ada komentar: