Siang itu, suasana di depan Gedung DPR/MPR RI sangat tegang. Ribuan mahasiswa dan masyarakat memenuhi jalan utama dengan teriakan lantang:
“Bubarkan DPR! Bubarkan DPR!”
Bendera-bendera ormas dan spanduk berisi tuntutan rakyat berkibar. Di tengah kerumunan itu, Detektif Rio berdiri mengamati. Dia bukan sekadar penonton, melainkan ditugaskan secara rahasia untuk menyelidiki adanya potensi provokasi berbahaya di balik demonstrasi besar tersebut.
Rio memperhatikan wajah-wajah penuh emosi, namun matanya tajam mencari sesuatu yang janggal. Ia tahu, dalam setiap kericuhan besar selalu ada “dalang” yang memancing kekacauan.
Kedatangan Sang Wakil Presiden
Tiba-tiba, sirene iring-iringan mobil negara terdengar. Massa sedikit terdiam. Dari balik mobil hitam berplat RI 2, turunlah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia maju ke hadapan kerumunan, menenangkan dengan suara lantang namun lembut:
“Saya hadir di sini mendengarkan suara rakyat. Jangan rusuh, kita cari solusi bersama.”
Sorak-sorai terdengar, sebagian mahasiswa menyambut baik, sebagian tetap berteriak lantang menuntut pembubaran DPR.
Di sisi lain, Ketua DPR Puan Maharani tidak tampak keluar dari gedung. Kabar beredar ia enggan menemui para demonstran karena khawatir situasi makin panas. Hal itu justru menambah kecurigaan rakyat: “Kalau memang wakil rakyat, kenapa takut menemui rakyatnya?”
Petunjuk Misterius
Sementara massa berdebat, Rio menemukan sesuatu yang aneh. Di balik spanduk besar, ia melihat sekelompok pria berpakaian preman berbisik sambil membawa tas ransel besar. Gerak-gerik mereka mencurigakan.
Rio mengikuti diam-diam. Ternyata, mereka bukan mahasiswa, melainkan penyusup bayaran. Rencana mereka: membuat kerusuhan, menyerang aparat, lalu menuduh demonstran sebagai biang onar. Tujuannya jelas—menciptakan alasan agar tuntutan rakyat bisa digagalkan.
Aksi Detektif Rio
Dengan sigap, Rio menyusup ke kerumunan. Ia berhasil menggagalkan upaya para provokator menyalakan molotov. Dengan cepat, ia menyerahkan mereka kepada aparat yang berjaga.
Namun, Rio tak berhenti di situ. Dari penyusup yang ditangkap, ia menemukan dokumen rahasia: ada pihak dalam yang sengaja mengatur provokasi agar citra rakyat terlihat anarkis. Dokumen itu mencantumkan nama beberapa pejabat yang ternyata khawatir kehilangan kekuasaan jika DPR benar-benar dibubarkan.
Amanat Rakyat
Massa semakin solid. Mereka tahu ada permainan kotor yang ingin menjatuhkan gerakan. Gibran pun angkat suara lagi:
“Rakyat adalah pemilik sah negeri ini. Suara kalian akan saya sampaikan langsung kepada Presiden. Tapi saya minta, jangan terprovokasi.”
Sorak sorai membahana. Sementara itu, Puan tetap tak muncul, membuat kekecewaan rakyat kian dalam.
Penutup
Di tengah gemuruh teriakan massa, Detektif Rio berdiri tegak. Ia sudah menemukan dalang provokasi dan mengantongi bukti kuat. Namun ia sadar, pekerjaannya belum selesai. Membongkar kebenaran politik jauh lebih rumit daripada sekadar menangkap penjahat biasa.
Satu hal yang jelas baginya: amanat rakyat tak bisa dipadamkan.
Malam itu, teriakan tetap sama:“Bubarkan DPR! Ini suara rakyat!”